Misi Mustahil: Menjadi Pejalan Kaki di Banda Aceh. Sebuah Opini Tentang Trotoar dan Ujian Kesabaran.
"Bang, Motornya Hilang?" Di Banda Aceh, jalan kaki itu bukan sekadar aktivitas fisik, tapi sebuah pernyataan sikap yang cukup ekstrem. Kalau Anda terlihat berjalan kaki di sepanjang jalan Teuku Umar atau kawasan Simpang Lima di siang bolong, bersiaplah untuk menerima tatapan penuh simpati dari pengendara motor yang lewat. Tatapan itu seolah bertanya, "Kasihan sekali, apakah motornya baru saja ditarik leasing?" atau "Ya Allah, apakah dia sedang menjalani hukuman?" atau “Pane awak nyan jak ngen tapak cok uroe timang”, “sayang sekali abang tu kemana-mana jalan kaki”. Budaya kita sudah sangat melekat dengan kendaraan bermotor. Jarak 200 meter ke kedai kopi saja, kita harus 'memanaskan' mesin Honda Vario atau Scoopy. Jalan kaki dianggap sebagai sesuatu yang aneh, eksotis, dan mungkin sedikit mencurigakan. Seolah-olah trotoar yang dibangun pemerintah itu hanyalah hiasan kota agar terlihat seperti kota-kota di Eropa, padahal fungsinya di lapangan jauh l...