Menggugat Respons Kebencanaan Kita: Antara Retorika Mitigasi, Realitas Birokrasi, dan Nasib Korban di Garis Depan
Indonesia lahir dari rahim pergolakan geologis yang luar biasa. Berada tepat di atas benturan tiga lempeng tektonik utama dunia—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik—serta dikelilingi oleh Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), negara ini pada hakikatnya adalah sebuah "laboratorium bencana" alam terbesar di dunia. Namun, ironisnya, predikat yang sudah disematkan sejak jutaan tahun lalu ini tampaknya belum sepenuhnya mampu mendewasakan sistem respons kebencanaan kita. Setiap kali bumi berguncang, gunung memuntahkan abunya, atau air laut naik menghantam pesisir, kita seolah dihadapkan pada sebuah naskah drama tragis yang sama, hanya dengan latar tempat dan aktor korban yang berbeda. Tragedi gempa bumi di berbagai wilayah Nusantara, termasuk yang kerap mengguncang kawasan kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), selalu meninggalkan narasi pilu yang lebih dari sekadar jumlah bangunan runtuh. Ia membuka kotak pandora mengenai rapuhnya sistem mitigasi kita, betapa lambannya birokra...