Skip to main content

Posts

Featured Post

Masjid Tuha Indrapuri, Saksi Bisu Peradaban dan Sejarah Aceh

Minggu sore 6 Juni 2020, masih membicarakan kekayaan sejarah Aceh bersama pakar sejarah. Mulai dari Benteng Durung, Benteng Inoeng Bale, Mercusuar William Torre hingga beberapa benteng lainnya seperti Benteng Indra Patra dan Eks Kerajaan Hindu Budha yaitu Masjid Tuha yang ada di Indrapuri Aceh Besar. Kalau kita buka literasi dahulu aceh terdapat 3 kerajaan besar yang dikenal dengan Aceh Lhee Sagoe, yaitu Indrapatra, Indrapuri, dan Indrapatra. Jika spot sejarah Indrapatra dan Indrapurwa sudah pernah saya jajaki, maka kali ini spot sejarah yang akan kami kunjungi jatuh pada Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia. Daya tarik sejarah yang menjadi saksi bisu adalah Masjid Tuha yang berdiri kokoh. Lokasi ini terletahkdi Kecamatan Indrapuri yang berjarak 24 KM dai Kota Banda Aceh. Sejarahnya seperti ini, Dikutip dari Wikipedia, Masjid Tuha Indrapuri adalah sebuah bangunan bersejarah yang merupakan bekas candi dari kerajaan Hindu Lamuri yang ada sekitar abad 12 Masehi dan me...
Recent posts

INA Digital 2026, Akhir dari Era "Fotokopi KTP" dan Ribuan Aplikasi Hantu?

“Pernahkah Anda membayangkan sebuah hari di mana Anda ingin mengurus paspor, mengecek pajak kendaraan, mendaftarkan sekolah anak, hingga mencairkan bantuan sosial hanya dari satu aplikasi di ponsel? Tanpa harus mengunduh sepuluh aplikasi berbeda, tanpa harus mendaftar akun baru berulang kali, dan yang paling penting: tanpa perlu membawa tumpukan fotokopi KTP. Pasti kita pernah mengalaminya. Kalau masalah fotokopi KTP sudah pasti 5 sampai 10 tahun yang lalu ini menjadi sesuatu yang sangat lumrah sekali ya kan? “ Selanjutnya, Selamat datang di tahun 2026. Jika rencana besar pemerintah berjalan mulus, tahun ini bukan lagi soal 'mimpi digital', melainkan realitas baru melalui GovTech Indonesia yang kita kenal sebagai INA Digital. Bagi orang awam, mungkin ini terdengar seperti jargon teknis pemerintah lainnya. Tapi percayalah, ini adalah revolusi birokrasi terbesar yang pernah kita alami sejak Indonesia merdeka. Kalian jangan pesimis dulu, apa ini pemerintah sok-sok digital, tapi k...

RAHASIA GELAP ALGORITMA BAGAIMANA 'HOOK' CLICKBAIT SEDANG MERUSAK OTAK DAN KEPERCAYAAN BELANJA ANDA!

Kita hidup di era di mana rentang perhatian manusia lebih pendek daripa [i] da ikan mas koki. Di mana hampir 1/6 waktu yang telah dijatah dalam 1 hari yaitu 24 jam, atau sekitar 4 jam sehari kita habiskan untuk scrool smartphone, baik itu membuka WhatsApp, TikTok, instragram atau browser handphone. Di mana sudah menjadi semacam rutinitas dan kebiasan kita selalu setiap hari menghabiskan waktu dengan smartphone. Salah satu adalah melihat barang-barang atau produk terbaru yang baik sudah kita rencanakan beli atau dengan tidak ada rencana atau tidak sengaja juga akan kita beli. Ini semua adalah ulah jempol dan otak kita yang juga dibantu dengan mata dan telinga. Jempol kita telah dilatih secara tidak sadar untuk terus menggulir layar ke atas, mencari suntikan dopamin berikutnya dalam format video vertikal 15 hingga 60 detik. Di tengah lautan konten ini, para pemasar digital dan kreator e-commerce bertarung dalam medan perang yang paling brutal dalam sejarah periklanan yaitu pertempuran 3 ...

Resensi Buku: Berlari, Menulis, dan Memaknai Penderitaan bersama Haruki Murakami

Identitas Buku Judul Asli: What I Talk About When I Talk About Running Penulis: Haruki Murakami Penerbit (Edisi Indonesia): Bentang Pustaka (Tersedia dalam berbagai cetakan) Tahun Terbit Pertama: 2007 (Edisi Bahasa Inggris/Jepang), Cetakan terjemahan bervariasi Genre: Memoar / Otobiografi Jumlah Halaman: ± 216 halaman Link Pembelian KLIK DISINI Pendahuluan Haruki Murakami dikenal dunia melalui karya-karya fiksinya yang surealis, magis, dan penuh teka-teki seperti Norwegian Wood dan Kafka on the Shore . Namun, melalui buku What I Talk About When I Talk About Running , Murakami melepas jubah fiksi tersebut dan mengundang pembaca masuk ke dalam ranah pribadinya yang paling intim. Buku ini bukanlah sebuah novel, melainkan sebuah memoar yang jujur dan reflektif mengenai dua pilar utama dalam hidupnya: menulis dan berlari. Tak lama setelah memutuskan untuk hidup seutuhnya sebagai penulis novel dan menutup bar jazz miliknya, Murakami memutuskan untuk mulai rutin berlari. Saat itu usian...