MENANTI SIRINE DI BANDA ACEH, FENOMENA "SILATURAHMI UDARA" PARA TOKOH DI RADIO BAITURRAHMAN JELANG BERBUKA
Bulan suci Ramadan di Kota Banda Aceh selalu punya cerita dan suasana yang khas terutama di Kota Banda Aceh. Menjelang sore hari, jalanan perlahan mulai lengang. Warga sudah bersiap di rumah masing-masing, duduk di ruang keluarga atau di teras sambil menata hidangan berbuka seperti kanji rumbi, kurma, Kolak, Putu, Surabi dan minuman segar. Di momen-momen inilah, ada satu kebiasaan yang hampir dilakukan oleh seluruh warga kota: menyalakan radio atau mendengarkan pengeras suara dari masjid terdekat yang me-relay siaran dari Radio Baiturrahman FM.
Nah disini Ada pola siaran yang sangat ikonik di Radio Baiturrahman setiap sore. Yang sudah berlangsung mungkin seingat saya 20 tahunan atau lebih. Dimana Setelah lantunan tilawah Al-Qur'an selesai dan sudah memasuki waktu magrib, ada jeda waktu sekitar 30 detik sebelum sirine panjang tanda berbuka puasa bergema. Waktu yang sangat singkat dan krusial ini diisi oleh runtutan ucapan "Selamat Berbuka Puasa" dari berbagai tokoh penting. Kita bisa mendengar terkadang suara Gubernur dan Wakil Gubernur, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banda Aceh, Ketua DPRK, hingga para pimpinan lembaga keuangan, yang paling sering terdengar adalah pimpinan Bank Syariah Indonesia (BSI). Dimana setiap tahunnya bisa saja tokoh dan jabatannya berubah-ubah dan biasanya dari pemerintahan.
Fenomena ini sudah menjadi semacam tradisi tahunan. Ini bukan sekadar ucapan biasa, melainkan sebuah bentuk silaturahmi udara dan upaya membangun kedekatan antara para pemimpin daerah, tokoh publik, serta pimpinan instansi dengan masyarakatnya di momen yang paling dinantikan setiap harinya dan momen yang paling ditunggu saat hari puasa karena masyarakat menantikan sirine pada jam tersebut.
Kenapa Harus di Waktu Menjelang Berbuka?
Mengisi suara di 30 hingga 60 detik terakhir sebelum berbuka puasa adalah sebuah strategi komunikasi publik yang sangat cerdas dan tepat sasaran. Mari kita bedah tujuannya dengan bahasa yang sederhana.
1. Upaya Membangun Kedekatan (Silaturahmi Publik)
Bagi tokoh pemerintahan seperti Gubernur, Wali Kota, atau Ketua DPRK, momen krusial buka puasa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menyapa warganya. Karena tidak mungkin mendatangi rumah warga satu per satu di waktu berbuka, radio menjadi jembatan silaturahmi yang paling efektif. Mereka ingin hadir menemani warganya di momen yang penuh keberkahan, walaupun Cuma ucapan selamat berbuka puasa. Yang pastinya masyarakat mengenal betul suara pemimpinnya.
2. Pengenalan dan Kedekatan Merek (Brand
Ini yang terjadi menurut pemantauan saya di tahun 2026, di mana ada ucapan selamat berbuka puasa dari pimpinan Bank Syariah Indonesia (BSI). Di mana pimpinan bank seperti BSI, tujuannya adalah silaturahmi udara dan memberikan informasi bahwa BSI ada di Aceh. Sejak Aceh menerapkan Qanun Lembaga Keuangan Syariah, perbankan syariah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi ekonomi warga. Dengan memberikan ucapan selamat berbuka, bank ingin menunjukkan bahwa mereka bukan cuma tempat menyimpan uang, tapi juga sahabat yang menemani ibadah masyarakat Aceh.
3. Menyapa di Waktu Emas (Prime Time)
Sepersekian jam sebelum azan Magrib adalah waktu di mana perhatian masyarakat sedang sangat fokus. Semua orang sedang menanti satu hal yang sama, yaitu suara sirine. Jadi, pesan yang disampaikan pada detik-detik ini pasti akan didengar oleh banyak orang.
4. Sumber Pendapatan Rutin Radio
Ini menjadi sumber bisnis utama radio terutama radio Baiturrahman dimana dalam ucapan-ucapan tersebut pasti ada biaya dan itu menjadi rutin setiap tahunnya dan bisa saja sampai 3 atau 4 tahun kedepan sudah ada “yang mendaftar” untuk mengucapkan selamat berbuka puasa atau seperti level gubernur sudah menjadi anggaran atau alokasi khusus untuk pengucapan ini. Tentu ini menjadi pemasukan radio yang sangat berharga dan bisa membantu eksistensi radio di era digital yang sangat pesat kini.
Dampak pada Masyarakat yaitu Menemani Waktu Menahan Diri
Ada satu fenomena psikologis dan sosial yang unik dari durasi 30 detik ini. Waktu setengah menit sebelum berbuka biasanya adalah titik di mana rasa lapar dan haus terasa paling memuncak. Hidangan sudah di depan mata, tapi waktu belum mengizinkan kita untuk makan dan minum.
Nah, di sinilah ucapan dari para tokoh ini memberikan dampak yang menarik bagi masyarakat.
1. Menjadi "Teman" Menunggu
Hadirnya suara-suara pejabat dan pimpinan instansi yang memberikan ucapan selamat berbuka, perkenalan singkat, dan harapan, membuat waktu menunggu jadi tidak terasa kosong. Masyarakat yang sedang menahan diri untuk tidak berbuka dulu jadi punya waktu singkat untuk membaca doa berbuka puasa atau membuka hidangan, inilah buah kesabaran.
2. Membangun Suasana Meriah tapi Syahdu dan Berkesan
Sapaan dari berbagai tokoh secara bergantian ini menciptakan suasana kebersamaan. Rasanya seperti seluruh kota sedang berkumpul di satu ruangan besar, saling menyapa, dan bersiap membatalkan puasa bersama-sama. Ini adalah momen berkesan karena setiap tahun masyarakat Banda Aceh merasakan hal ini. Rasanya kalau tidak ada ucapan ini seakan buka puasa ada sesuatu yang berbeda dan hambar rasanya tanpa ucapan dari tokoh penting.
3. Alarm Alami
Bagi ibu-ibu di dapur atau bapak-bapak yang sedang bersantai, rentetan ucapan dari Wali Kota hingga pimpinan BSI ini sudah menjadi semacam "alarm hitung mundur". Kalau ucapan dari tokoh-tokoh ini sudah mulai mengudara, masyarakat tahu bahwa waktu berbuka tinggal sebentar lagi, sehingga persiapan akhir bisa segera diselesaikan.
Manfaat Fenomena Ini bagi Semua Pihak
Tradisi silaturahmi udara ini terus bertahan karena memberikan manfaat yang jelas bagi semua pihak yang terlibat:
1. Bagi Para Tokoh dan Instansi:
Mereka mendapatkan ruang komunikasi yang sangat luas. Hanya dengan satu rekaman suara, pesan damai, doa, dan sapaan hangat mereka bisa masuk ke ruang-ruang keluarga, warung kopi, hingga ke dalam mobil warga yang sedang terjebak macet sore hari di simpang lima Banda Aceh. Ini adalah cara bersosialisasi yang sangat efisien dan efektif.
2. Bagi Radio Baiturrahman
Tentu saja ini menjadi bentuk dukungan positif bagi eksistensi media lokal. Keterlibatan pemerintah daerah dan instansi besar seperti BSI membantu radio kebanggaan masyarakat Aceh ini untuk terus mengudara dan menyajikan program-program dakwah yang berkualitas.
3. Bagi Masyarakat Banda Aceh
Warga merasa diperhatikan oleh para pemimpinnya. Mendengar suara Gubernur, Wali Kota, ketua DPRK, dan pimpinan BSI mendoakan puasa kita agar diterima, memberikan sentuhan kekeluargaan yang hangat. Tradisi ini pada akhirnya menjadi salah satu memori kolektif yang selalu dirindukan setiap kali Ramadan tiba.
Menciptakan Ingatan Positif (Top of Mind)
Lalu, apa hasil dari rutinitas yang diulang setiap hari selama 30 hari penuh ini? Hasil utamanya adalah terciptanya ingatan yang sangat kuat dan positif di benak masyarakat (top of MIND), Karena sapaan ini diputar di momen ketika masyarakat sedang merasa bahagia, bersyukur, dan lega (menjelang buka puasa), nama-nama tokoh pemerintahan dan instansi seperti BSI secara otomatis terhubung dengan perasaan positif tersebut. Ketika warga Banda Aceh mengingat Ramadan yang syahdu, mereka juga akan teringat pada suara-suara akrab dari radio yang menemani mereka di meja makan. Ini adalah bentuk sosialisasi yang berhasil menyentuh sisi emosional warga.
Kesimpulan
Sebagai penutup, hadirnya ucapan selamat berbuka puasa dari Gubernur, Wali Kota, pimpinan DPRK, hingga pimpinan BSI di Radio Baiturrahman—selama 30 detik sebelum sirine berbuka adalah sebuah tradisi komunikasi yang indah di Kota Banda Aceh.
Ini bukan sekadar ajang promosi atau beriklan, melainkan sebuah bentuk silaturahmi publik yang cerdas. Strategi ini terbukti sangat efektif karena dilakukan di waktu yang paling dinantikan masyarakat. Bagi warga, sapaan ini bukan hal yang mengganggu, melainkan justru menjadi teman setia yang menemani mereka saat menahan rasa lapar di detik-detik terakhir sebelum azan bergema. Pada akhirnya, harmoni suara dari radio ini menjadi salah satu warna yang membuat ibadah puasa di Serambi Mekkah selalu terasa istimewa dan penuh kekeluargaan.

Comments
Post a Comment