Skip to main content

Menakar Efektivitas Skema Rapel 3 Hari Makan Bergizi Gratis Selama Ramadhan: Solusi Taktis atau Kompromi Gizi?

Bulan suci Ramadhan selalu bawa nuansa beda. Buat anak sekolahan, ini waktunya nahan lapar dan haus dari imsak sampa
i maghrib. Tapi, tahun 2026 ini ada satu tantangan baru yang lumayan bikin pemerintah putar otak: Gimana nasib program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang biasanya dibagiin jam makan siang?

Nah, alih-alih di-stop, Badan Gizi Nasional (BGN) ngeluarin kebijakan taktis yang cukup menarik buat dibahas, yaitu skema rapel atau bundling. Intinya, jatah makan anak-anak dirapel untuk dikonsumsi 2 sampai 3 hari ke depan, dan dibagikan dalam bentuk paket untuk dibawa pulang.

Kelihatannya simpel, ya? Tapi di lapangan, kebijakan ini menuai pro dan kontra. Yuk, kita bedah bareng-bareng efektivitas skema rapel ini, dari sisi positif yang mendominasi, sedikit celah negatifnya, sampai gimana sih realita praktiknya di daerah seperti Aceh.

Sesuai Anjuran BGN, Kenapa Harus Dirapel?

Sebelum kita judge macam-macam, kita harus tahu dulu kalau skema rapel ini bukan inisiatif ngasal dari dapur umum, tapi memang sesuai dengan anjuran dan petunjuk teknis (Juknis) dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Kepala BGN, Dadan Hindayana, udah menegaskan kalau program MBG harus tetap jalan demi menjaga asupan gizi 82,9 juta penerima manfaat, meskipun mereka lagi puasa. Karena nggak mungkin ngasih makan siang di sekolah, solusinya adalah memberikan paket makanan kemasan sehat yang bisa dibawa pulang buat buka puasa atau sahur.

Biar distribusinya nggak ribet dan nggak ganggu waktu istirahat anak yang lagi lemas puasa, BGN memperbolehkan sistem bundling atau rapel maksimal 3 hari. Syarat mutlaknya: menunya harus disesuaikan menjadi menu kering yang tahan lama, bukan ultra-processed food (UPF) pabrikan, dan dikemas higienis.

Dampak Positifnya yaitu Kenapa Skema Ini Patut Diapresiasi?

Kalau kita lihat dari kacamata helikopter, skema rapel 3 hari ini sebenarnya punya dampak positif yang jauh lebih masif dibandingkan sekadar "ngasih makan".

1. Efisiensi Logistik yang Luar Biasa

Bayangkan ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum harus ngirim makanan setiap hari jelang maghrib. Macetnya jalanan saat ngabuburit pasti bikin distribusi chaos. Dengan sistem rapel 2-3 hari sekali, biaya operasional (seperti bensin kurir dan tenaga ekstra) bisa ditekan, dan proses pengantaran ke sekolah jadi jauh lebih kondusif.

2. Fleksibilitas Waktu Makan untuk Keluarga

Paket rapel yang dibawa pulang ngasih kebebasan buat siswa. Mereka bisa milih: apakah roti gandum dan susu UHT-nya mau dipakai buat takjil buka puasa, atau telur rebus dan abon sapinya mau disimpan buat nambah protein pas sahur? Ini ngebantu banget meringankan beban dapur orang tua di rumah selama Ramadhan.

3. Menggerakkan Roda UMKM Lokal

Karena menunya dipaksa berubah jadi "menu kering" (seperti abon, kering tempe, serundeng, atau roti), dapur MBG otomatis harus belanja ke produsen lokal. Ini jadi berkah Ramadhan tersendiri buat pelaku UMKM di daerah. Uang negara berputar langsung di kantong rakyat kecil.

4. Edukasi Penyimpanan Makanan

Secara nggak langsung, Juknis BGN mewajibkan pihak sekolah dan SPPG buat ngajarin anak-anak cara menyimpan makanan yang benar. Mana yang harus masuk kulkas, mana yang bisa ditaruh di suhu ruang. Ini life skill basic yang bagus banget buat diajarkan sejak dini.

Fakta di Lapangan, Menengok Kesuksesan Skema Rapel di Aceh

Ngomongin teori doang rasanya kurang afdhol kalau nggak ngecek fakta di lapangan. Gimana sih implementasinya? Kita ambil contoh di daerah ujung barat Indonesia: Aceh.

Di Aceh, program MBG Ramadhan ini berjalan cukup mulus dan bisa jadi role model. Berdasarkan fakta di lapangan dari Koordinator Wilayah MBG Aceh Timur, mereka menerapkan sistem rapelan dua kali seminggu secara disiplin. Jatah hari Senin dipakai untuk cover makan hari Selasa-Rabu, dan jatah Kamis untuk Jumat-Sabtu.

Yang bikin salut, mereka benar-benar patuh sama Juknis BGN soal standar gizi dan anggaran. Anggaran murni bahan makanan dipatok Rp8.000 (porsi kecil/SD awal) sampai Rp10.000 (porsi besar/SMP-SMA), di luar biaya operasional dapur.

Apa aja isi menunya di Aceh Timur? Mereka say no ke makanan basah yang gampang basi. Menunya disulap jadi menu kering yang aman untuk berbuka puasa, seperti:

  • Karbohidrat seperti Roti gandum yang dipasok dari UMKM lokal (bukan roti manis biasa).
  • Protein & Lemak Sehat seperti Telur, tempe, tahu, dan abon.
  • Kalsium seperti Susu UHT plain (tanpa rasa). Korwil di sana dengan tegas melarang susu rasa coklat atau stroberi karena kandungan gulanya tinggi—keputusan yang sangat cerdas untuk menjaga lonjakan gula darah anak saat berbuka!
  • Serat seperti  Buah-buahan segar yang kulitnya tebal (seperti pisang atau jeruk) sehingga tahan disimpan beberapa hari.

Di daerah lain seperti Subulussalam, pembagian paket juga disesuaikan jelang berbuka dengan kurasi Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang ketat. Artinya, secara konsep dan eksekusi, skema rapel ini terbukti sangat logis dan efektif jika dikawal oleh orang-orang yang melek gizi dan peduli pada kualitas.

Sedikit Catatan Negatif yang Harus Dievaluasi

Walaupun secara umum skema ini brilian, kita harus jujur kalau ada beberapa celah negatif yang terjadi di beberapa daerah (seperti keluhan di Bangkalan atau Banten), dan ini wajib jadi catatan evaluasi bagi BGN.

1. Risiko Makanan Basi dan Menurunnya Kesegaran

Ini keluhan paling umum. Kadang, ada dapur SPPG yang kurang teredukasi dan memaksakan diri mengirim makanan basah (seperti ayam ungkep, sayur berkuah, atau buah yang gampang membusuk) untuk dirapel 3 hari. Hasilnya kualitas menurun, makanan tidak segar, bahkan berisiko basi jika siswa di rumahnya tidak memiliki kulkas yang memadai.

2. Kecurigaan Penyalahgunaan Anggaran Operasional

Sistem rapel membuat dapur hanya mendistribusikan makanan dua kali seminggu. Nah, di sinilah muncul prasangka dari beberapa wali murid. Jika biaya operasional dan sewa wadah dianggarkan harian, ke mana sisa uang distribusi untuk hari-hari yang dirapel? Meski BGN sudah merinci alokasi dan fix cost-nya, komunikasi dan transparansi di tingkat bawah ke orang tua siswa masih sering miskomunikasi.

3. Menu Terasa Monoton

Namanya juga menu kering yang disetting agar tahan lama, variasinya tidak akan sekaya masakan basah harian. Anak-anak mungkin merasa agak bosan jika menunya terus-terusan berputar di seputar abon, kering tempe, dan roti gandum selama sebulan penuh.

Kompromi yang Cerdas, Asal Pengawasannya Ketat

Menakar efektivitas skema rapel 3 hari Makan Bergizi Gratis di bulan Ramadhan ini ibarat melihat gelas setengah penuh. Dari kacamata BGN, ini adalah kompromi taktis yang sangat masuk akal. Ketimbang programnya mandek selama sebulan penuh, jauh lebih baik menyesuaikan cara distribusinya.

Dampak positifnya jelas lebih mendominasi yaitu menghemat operasional logistik yang rawan chaos jelang buka puasa, memberdayakan UMKM lokal penghasil makanan kering, dan memberikan fleksibilitas konsumsi di rumah. Kasus di Aceh membuktikan bahwa jika aturan BGN dijalankan dengan dedikasi tinggi (mengganti ke menu kering murni, menghindari gula berlebih), skema rapel ini berjalan sangat luar biasa.

Tantangan utamanya sekarang tinggal satu yaitu Pengawasan Mutu. BGN dan Satgas di daerah harus cerewet mengawasi dapur SPPG. Jangan sampai niat baik negara memberikan gizi malah berujung mubazir karena makanan yang tidak layak simpan. Ke depannya, inovasi seperti kemasan hampa udara (vacuum wrap) mungkin bisa jadi solusi agar lauk pauk lebih bervariasi tanpa takut basi.

Secara keseluruhan, skema ini pantas diapresiasi sebagai langkah problem solving yang cepat dari pemerintah. Selamat berpuasa untuk adik-adik semua, semoga gizinya tetap terpenuhi dengan baik!

 


Comments

Popular posts from this blog

PEMIKIRAN YANG DIJADIKAN DASAR FALSAFAH PADA SISTEM EKONOMI KAPITALIS

Ekonomi kapitalis adalah sistem ekonomi yang didasarkan pada kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi dan distribusi, serta pada prinsip-prinsip pasar bebas. Dasar falsafah sistem ini dibangun melalui berbagai pemikiran dari sejumlah filsuf dan ekonom, yang berperan besar dalam mengembangkan teori dan praktik kapitalisme.

MANAJEMEN UJI KINERJA PROGRAM PROFESI GURU (PPG)

Program Profesi Guru (PPG) merupakan langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kompetensi guru di Indonesia. Salah satu komponen penting dalam proses ini adalah Uji Kinerja (UKin) , yang bertujuan untuk menilai kemampuan peserta PPG dalam menerapkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian secara terintegrasi di lingkungan pendidikan. Untuk memastikan kelancaran pelaksanaan UKin, diperlukan manajemen yang sistematis dan terencana. Artikel ini akan membahas berbagai aspek manajemen uji kinerja PPG, mulai dari persiapan hingga evaluasi hasil. 1. Pengertian dan Tujuan Uji Kinerja PPG Uji Kinerja adalah bagian dari asesmen dalam PPG yang bertujuan untuk: Mengukur kemampuan guru dalam menerapkan teori pendidikan ke dalam praktik. Menilai kualitas pengelolaan pembelajaran berdasarkan standar nasional pendidikan. Memberikan umpan balik kepada peserta PPG untuk pengembangan kompetensi lebih lanjut. Uji kinerja juga bertujuan untuk menjamin bahwa guru yang lulus dari PPG...

ANALISIS FUNGSI PENGAWASAN DALAM MANAJEMEN

Fungsi pengawasan (controlling) merupakan salah satu elemen penting dalam proses manajemen. Dalam siklus manajemen yang terdiri dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (leading), dan pengawasan (controlling), pengawasan berperan untuk memastikan bahwa semua aktivitas organisasi berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Fungsi ini bertujuan untuk menjaga keberhasilan operasional serta membantu organisasi dalam mencapai tujuan strategisnya. Artikel ini akan menganalisis lebih dalam fungsi pengawasan, mencakup pengertian, tujuan, jenis, proses, serta tantangan yang sering dihadapi dalam implementasinya. Pengertian Fungsi Pengawasan Pengawasan adalah proses sistematis untuk memantau, mengevaluasi, dan mengarahkan kegiatan agar sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Dalam konteks manajemen, pengawasan mencakup evaluasi kinerja organisasi, tim, maupun individu. George R. Terry mendefinisikan pengawasan sebagai proses menentukan apa yang telah...