Skip to main content

Misi Mustahil: Menjadi Pejalan Kaki di Banda Aceh. Sebuah Opini Tentang Trotoar dan Ujian Kesabaran.

"Bang, Motornya Hilang?"

Di Banda Aceh, jalan kaki itu bukan sekadar aktivitas fisik, tapi sebuah pernyataan sikap yang cukup ekstrem. Kalau Anda terlihat berjalan kaki di sepanjang jalan Teuku Umar atau kawasan Simpang Lima di siang bolong, bersiaplah untuk menerima tatapan penuh simpati dari pengendara motor yang lewat. Tatapan itu seolah bertanya, "Kasihan sekali, apakah motornya baru saja ditarik leasing?" atau "Ya Allah, apakah dia sedang menjalani hukuman?" atau “Pane awak nyan jak ngen tapak cok uroe timang”, “sayang sekali abang tu kemana-mana jalan kaki”.

Budaya kita sudah sangat melekat dengan kendaraan bermotor. Jarak 200 meter ke kedai kopi saja, kita harus 'memanaskan' mesin Honda Vario atau Scoopy. Jalan kaki dianggap sebagai sesuatu yang aneh, eksotis, dan mungkin sedikit mencurigakan. Seolah-olah trotoar yang dibangun pemerintah itu hanyalah hiasan kota agar terlihat seperti kota-kota di Eropa, padahal fungsinya di lapangan jauh lebih dinamis (baca: kacau).

Di Banda Aceh, kalau Anda jalan kaki pakai sepatu lari dan baju jersey, orang maklum,itu namanya olahraga, dan itu banyak disini setiap pagi ada setiap sore ada apalagi hari Sabtu dan Minggu dan memanglah berjalan kaki di kota ini sangat nikmat karena tidak terlalu polusi seperti kota besar lainnya. Tapi kalau jalan kaki pakai baju rapi untuk kerja atau sekadar mau ke minimarket, orang bakal berhenti dan menawarkan tumpangan karena disangka sedang tertimpa musibah. "Ayo Bang, naik aja, jangan malu-malu," kata mereka dengan tulus. Padahal kita cuma ingin menikmati hembusan angin (dan sedikit polusi) kota secara langsung.

Sejatinya, berjalan kaki adalah hak dasar manusia sebelum ditemukannya roda. Namun di kota ini, pejalan kaki adalah kasta terendah dalam hierarki jalan raya. Kita harus bersaing dengan knalpot kendaraan bermotor, asap sate, dan tentu saja, teka-teki infrastruktur yang lebih sulit dipecahkan daripada soal ujian CPNS. Karena bisa saja lagi-lagi jalan kita harus berbelok sedikit karena ada pedagang, ada parkir, atau ada trotoar bolong.

Trotoar: Food Court Terpanjang di Dunia

Nah, mari kita bahas tantangan pertama: Pedagang Kaki Lima (PKL). Secara harfiah, nama mereka memang 'Kaki Lima', tapi entah kenapa mereka sangat hobi mengambil hak 'Kaki Dua' milik kita para pejalan kaki. Trotoar di Banda Aceh seringkali berubah wujud menjadi festival kuliner dadakan tanpa jadwal yang jelas. Apalagi jalan kaki dimalam hari yang memang lebih banyak pedagang kaki lima dan barang toko yang dijajakan sampaikan ke trotoar.

Bayangkan Anda sedang mencoba hidup sehat dengan berjalan kaki. Baru jalan sepuluh meter, hidung Anda langsung diserang aroma Martabak Telur yang sangat menggoda aroma kaldu bakso, atau aroma bakar-bakar dari angkringan yang tiba-tiba sudah banyak di Banda Aceh. Lima meter kemudian, ada gerobak Jus Alpukat yang parkir tepat di tengah jalan. Niatnya ingin membakar kalori, yang ada malah menambah kolesterol karena setiap berhenti di trotoar, kita malah jadi belanja. Tapi ya begitulah kita yang berkaki dua ini gak akan bisa mengimbangi yang kaki lima.

Di satu sisi, kita bangga. UMKM kita tumbuh subur. Ekonomi mikro bergerak di atas ubin trotoar. Lapangan kerja tercipta bagi abang-abang penjual mobil kopi dan bakso. Tapi di sisi lain, pejalan kaki harus melakukan gerakan akrobatik 'Matrix' hanya untuk melewati sebuah gerobak gorengan. Kita harus turun ke badan jalan, bersenggolan dengan spion mobil yang lewat, lalu naik lagi ke trotoar setelah melewati tumpukan kursi plastik pelanggan sate. Gerakan-gerakan semi zig-zag dan adegan parkour dadakan sudah harus sering kita keluarkan.

Ini bukan jalan santai, ini namanya latihan fisik pasukan khusus. Belum lagi kalau musim hujan datang. Trotoar yang sudah sempit itu bertambah rintangannya dengan genangan air dan payung-payung pedagang yang ujungnya tepat mengenai mata kita. Dilema ini nyata. Kalau dilarang, kita kasihan pada pedagang yang mencari rezeki halal. Kalau dibiarkan, trotoar kita fungsinya jadi 'ruang tamu' warung, bukan jalur transportasi. Akhirnya, pejalan kaki mengalah, karena berdebat dengan aroma kopi dan vanila laut dan bakso goreng itu sia-sia dan melelahkan hati.

Pos Karcis: Bos Terakhir di Level Trotoar

Kalau Anda berpikir gerobak sate adalah rintangan terberat, Anda salah besar. Masih ada 'Bos Terakhir' dalam petualangan jalan kaki ini: Pos Karcis dan Portal Parkir yang dibangun tepat di atas trotoar. Ini adalah puncak komedi tata kota kita. Kalian kalian sering jalan kaki mungkin bisa menemukan spot ini. Atau spotnya tidak ada lagi karena sudah dihancurkan dengan kesadaran atau teguran.

Ada sebuah fenomena unik di mana fasilitas publik untuk berjalan kaki justru 'disumbat' oleh bangunan permanen milik pengelola parkir. Jadi, skenarionya begini: trotoar dibangun bagus-bagus pakai dana pajak rakyat, lalu di tengahnya ditaruh kotak beton dan kaca berisi manusia yang memungut biaya parkir dan tombol buka tutup portal. Pejalan kaki? Silakan terbang atau mengecilkan badan seperti Ant-Man untuk bisa lewat, atau pakai ilmu tembus tembok bisa juga.

Belum lagi portal parkir otomatis yang batangnya melintang indah menutupi lebar trotoar. Ini seolah-olah memberi pesan: "Hanya kendaraan bermotor yang punya akses, manusia kaki dua silakan cari jalan lain." Trotoar yang harusnya jadi zona aman, malah jadi zona parkir motor. Ubin pemandu untuk disabilitas (guiding block) yang berwarna kuning itu? Seringkali berakhir di bawah roda ban mobil atau malah menabrak tembok pos parkir. Sungguh sebuah desain yang sangat visioner (maksudnya, butuh visi luar biasa untuk mengerti logikanya). Gimana jadinya kalau sahabat disabilitas kita lagi jalan malah ketabrak motor yang lagi diparkir.

Kita sering melihat trotoar yang tiba-tiba putus, lalu di depannya ada pohon besar, atau kabel listrik yang melambai rendah. Berjalan kaki di Banda Aceh adalah olahraga otak yang intens karena kita harus terus menghitung strategi: "Lewat kiri ada lubang, lewat kanan ada pos parkir, lewat tengah ada jemuran kerupuk." Jika Anda berhasil berjalan 1 kilometer tanpa menyentuh aspal jalan raya, selamat! Anda layak mendapatkan medali emas dari dinas terkait.

Penutup: Antara Empati dan Fungsi

Kesimpulannya, jalan kaki di Banda Aceh adalah sebuah petualangan spiritual yang menguji kesabaran. Kita terjepit di antara dua kepentingan yang sama-sama kuat. Kita ingin mendukung UMKM (karena siapa yang bisa tahan tidak beli gorengan sore-sore?), tapi kita juga ingin kota yang manusiawi bagi pejalan kaki.

Pemerintah kota perlu menyadari bahwa trotoar bukan sekadar sisa lahan di pinggir jalan yang bisa dikomersialkan secara acak. Menaruh pos parkir di atas trotoar itu ibarat menaruh kompor di dalam kamar mandi; fungsinya jadi tumpang tindih dan bikin repot semua orang. UMKM bisa tetap maju jika diberikan zonasi yang tepat, tanpa harus 'menjajah' hak orang yang ingin melangkahkan kaki.

Mungkin suatu saat nanti, kita bisa berjalan kaki dari Peunayong sampai Neusu tanpa harus turun ke aspal karena terhalang portal parkir atau kepungan asap bakso bakar. Sampai saat itu tiba, bagi Anda yang tetap nekat jalan kaki di Banda Aceh: Tetaplah semangat, abaikan tatapan heran orang-orang. Jika ada yang menatap anda maka tatap dia lagi. Pastikan Anda punya refleks yang cepat untuk menghindari motor yang tiba-tiba naik ke trotoar demi memotong jalan.

Satu tips terakhir: Kalau Anda merasa lelah berjalan karena rintangan yang terlalu banyak, berhentilah di salah satu PKL yang menutupi jalan itu. Belilah segelas es kelapa muda. Hitung-hitung, itu adalah biaya 'pajak masuk' karena telah melewati wilayah kekuasaan mereka. Dengan begitu, pedagang senang, perut kenyang, dan kaki yang pegal pun terobati sesaat.

Demikian opini singkat ini. Maafkan jika ada yang kurang berkenan.


Comments

Popular posts from this blog

PEMIKIRAN YANG DIJADIKAN DASAR FALSAFAH PADA SISTEM EKONOMI KAPITALIS

Ekonomi kapitalis adalah sistem ekonomi yang didasarkan pada kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi dan distribusi, serta pada prinsip-prinsip pasar bebas. Dasar falsafah sistem ini dibangun melalui berbagai pemikiran dari sejumlah filsuf dan ekonom, yang berperan besar dalam mengembangkan teori dan praktik kapitalisme.

MANAJEMEN UJI KINERJA PROGRAM PROFESI GURU (PPG)

Program Profesi Guru (PPG) merupakan langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kompetensi guru di Indonesia. Salah satu komponen penting dalam proses ini adalah Uji Kinerja (UKin) , yang bertujuan untuk menilai kemampuan peserta PPG dalam menerapkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian secara terintegrasi di lingkungan pendidikan. Untuk memastikan kelancaran pelaksanaan UKin, diperlukan manajemen yang sistematis dan terencana. Artikel ini akan membahas berbagai aspek manajemen uji kinerja PPG, mulai dari persiapan hingga evaluasi hasil. 1. Pengertian dan Tujuan Uji Kinerja PPG Uji Kinerja adalah bagian dari asesmen dalam PPG yang bertujuan untuk: Mengukur kemampuan guru dalam menerapkan teori pendidikan ke dalam praktik. Menilai kualitas pengelolaan pembelajaran berdasarkan standar nasional pendidikan. Memberikan umpan balik kepada peserta PPG untuk pengembangan kompetensi lebih lanjut. Uji kinerja juga bertujuan untuk menjamin bahwa guru yang lulus dari PPG...

ANALISIS FUNGSI PENGAWASAN DALAM MANAJEMEN

Fungsi pengawasan (controlling) merupakan salah satu elemen penting dalam proses manajemen. Dalam siklus manajemen yang terdiri dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (leading), dan pengawasan (controlling), pengawasan berperan untuk memastikan bahwa semua aktivitas organisasi berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Fungsi ini bertujuan untuk menjaga keberhasilan operasional serta membantu organisasi dalam mencapai tujuan strategisnya. Artikel ini akan menganalisis lebih dalam fungsi pengawasan, mencakup pengertian, tujuan, jenis, proses, serta tantangan yang sering dihadapi dalam implementasinya. Pengertian Fungsi Pengawasan Pengawasan adalah proses sistematis untuk memantau, mengevaluasi, dan mengarahkan kegiatan agar sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Dalam konteks manajemen, pengawasan mencakup evaluasi kinerja organisasi, tim, maupun individu. George R. Terry mendefinisikan pengawasan sebagai proses menentukan apa yang telah...