Seringkali, ketika kita berbicara tentang masa depan umat manusia, mata kita tertuju ke langit. Kita terobsesi dengan kolonisasi Mars, menambang asteroid, atau mencari "Bumi kedua" di gugusan bintang yang jauh. Namun, dalam obsesi kita menatap ke atas, saya berpendapat bahwa kita telah melakukan kesalahan fatal: kita lupa menunduk. Kita lupa pada entitas tipis, rapuh, namun sangat kuat yang menopang seluruh bobot peradaban kita: Tanah. Secara akademis, disiplin ini dikenal sebagai Ilmu Tanah (Soil Science), Pedologi, atau Edafologi. Namun, bagi saya, menyebutnya sekadar "ilmu" terasa terlalu dingin. Ini bukan hanya tentang membedah butiran pasir, debu, dan liat. Ini adalah studi tentang "kulit bumi"—sebuah membran hidup yang bernapas, yang menjadi satu-satunya pembatas antara kelimpahan pangan dan kepunahan massal. Reduksi yang Berbahaya: Tanah Bukan Sekadar Spons Selama satu abad terakhir, khususnya sejak Revolusi Hijau, kita telah melakukan dosa besar te...